Jadi Batu
Kalau lagi jengkel, memang rasanya agak lega kalau bisa ngomel. Apalagi kalo bisa ngomelin orang yang tepat.
Tapi akhir-akhir ini ternyata tenaga saya untuk ngomel lagi low battery banget. Tau kenapa.
Kejadian pertama, ngadepin nyokap yang usianya 2 kali lipat usia saya tapi ternyata emotional intelligence nya ternyata saingan sama anak saya yang usianya 4 tahun dan masih rawan tantrum. Saya tidak bisa ngomel walau diteror ditelepon jam 01.30 dini hari , diultimatum nyokap mau tinggal di wisma jompo saja karena saya absen menjenguknya belakangan ini (sementara kedua abang saya yang absen menjenguk memberi jawaban: kan gue dah transfer duit ke nyokap, ngapain lagi gue dateng? --mau nimpuk gak tuh?). Belum lagi mendengarkan keluhan beliau tentang para kakak ipar saya, welehh..salah-salah ngomong saya seperti kakak tirinya Cinderella.Mendingan diem seribu bahasa.
Nah. Kalau di kantor bete, daripada ngomel2... mending jadi batu. Dan saat orang tanya kenapa urusan A gak kelar-kelar, sambil ngeloyor bisa berseloroh "The system fails, I don't".
Kalau di keadaan lain, yang idealnya ada pembicaraan harmonis, tapi siapa yang mau disalahkan kalau saya pilih jadi batu setelah pertengkaran hebat gara-gara masalah yang menurut saya sepele. Saya tidak bisa berpura-pura manis, karena hari masih pegel (gak ada tukang pijet hati sih). Tidak bisa nyolot,karena tidak mau berniat bermusuhan. Itu saja. Tapi saya pilih jadi batu.
Katanya lebih mudah jadi malaikat, karena hanya bertugas beribadah dan memuji kebesaran Tuhan. Tapi tokh saya tidak bisa memohon dirubah menjadi malaikat. Saya juga tidak bisa pura-pura jadi malaikat. Maafkan kebatuan kepala dan hati saya.

Comments