Mendengarkan suara hati
Suatu hari Minggu, saya makan siang dengan seorang kawan lama karena kami sama-sama baru ultah dan rasanya sudah lebih dari 3 tahun tidak bertemu muka. We used to be close. QUite close. Saya sendiri lupa kenapa hubungan pertemanan kami sempat merenggang. Entah kesibukan, entah pernah jengkel, sampai kami sudah lupa.
Status kami berbeda. Saya, ibu beranak 3. Dia, jomblo tapi punya TTM dengan seorang bule. LDR pula. NSR.
Di satu sisi, dia mengagumi kenekatan saya. Haha. ANdai dia tahu, bahwa saya sendiri suka takut dengan kenekatan saya.
Di lain sisi, saya mengagumi keagungan budinya, penurut dengan ortu, dan memilih jalan karir yang lebih menantang.
Ternyata saat kita bertemu dan berkaca tentang persoalan hidup masing-masing, benar-benar jadi moment yang membukakan mata. Saya benar-benar tersentuh.
Memang saya tidak buka semua perkara pribadi. Tapi beberapa kali saya tertegun dengan ucapan-ucapan kawan saya itu. Terutama dengan hal-hal yang selama ini tidak menjadi bahan pertimbangan saya. Bagaimanapun, ada hal yang terlupa.
Kemana perginya suara hati? Kenapa telinga saya jadi pekak oleh suara-suara di luar? Kenapa saya juga jadi sibuk berteriak-teriak sampai saya sendiri sudah tidak tahu apa lagi yang saya teriakan. Mungkin saya sendiri juga jadi tuli karena teriakan sendiri.
I should have been aware that people mean well. Should have never questioned them. Could have considered other things but my own stuff.
Apa sih juga salahnya tak cepat bereaksi, beraksi, apalagi berkomentar. Terlalu cepat mengambil kesimpulan, juga menyesatkan. Mending kalau tersesat sendirian, nah kalau bikin orang lain tersesat? Apa bukan saya juga yang malah gak bener?
Arrghhh.... coba ah. Walau gigi masih gemeretuk geram, tangan siap-siap mencengkeram kerah orang, saya mau coba menajamkan pendengaran. Siapa tahu hati saya bisa kompromi.

Comments