My Photo
Powered by Friendster Blogs

« Mencintaimu: dulu dan sekarang | Main

July 06, 2007

Kebersamaan

Saya tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya dengan jarak usia yang terpaut jauh dengan dua kakak laki-laki saya. sedangkan mereka terpaut usia 11 bulan, sehingga punya punya lebih banyak kesamaan satu sama lain.

Dari kecil saya mendapatkan lebih banyak privacy dari teman-teman sebaya. Bayangkan, dapat kamar sendiri karena gak mungkin tidur bareng kakak-kakak berlain jenis. Punya koleksi mainan sendiri, menyimpan barang-barang kesukaan di tempat tersendiri.

Berbeda halnya dengan orang terdekat saya, suami, yang dilahirkan kembar. Bayangkan, kembarannya lain jenis. Mungkin ada beberapa hal yang sedari kecil disamakan : baju, mainan, atau perlakuan. Mungkin seringnya banyak hal lebih senang dilakukan  bersama-sama. Berawal dari kebersamaan, tapi bisa juga menjurus ke persaingan.

Hal yang menyenangkan yang saya temui dari suami adalah dia tidak keberatan ikut terlibat dengan kesibukan dan kepusingan saya. He's just simply ready to be with me. Dari urusan kantor; masa-masa saya merintis pelatihan debat untuk siswa sementara atasan saya perdulipun tidak, sampai urusan anak--memandikan, membersihkan pampers, bahkan memeras ASI. Saya acungkan dua jempol karena suami saya rela menjaga anak-anak dan mengurus rumah (catat: tanpa pembantu) sementara saya datang ke pertemuan perhimpunan guru-guru.

Kaitan dengan sang saudara kembar juga tak kalah seru. Dulu itu masa pacaran, kita sering jalan bareng-- saya, suami saya--yang indulunya pacar saya, kembarannya dan pacarnya. Makan bareng, nonton bareng. Tapi nikah, gak bareng-bareng. Hamil anak pertama, ternyata bareng. Jadi, hamil bareng, melahirkan hampir berdekatan. Membesarkan anak bareng (karena tinggal di rumah yang sama), walau dengan value yang berbeda.

Lama-lama, saya merasa butuh lebih banyak ruang gerak. Saya butuh bernafas. Bukan karena saya tidak mau bersama-sama. Sederhana saja, saya butuh privacy.

Sedangkan secinta-cintanya saya dengan anak-anak, saya perlu waktu untuk duduk di depan komputer tanpa mereka, memasak tanpa rewelan atau tangisan mereka. Sering juga saya perlu jalan-jalan sendiri, entah ke toko buku atau ke mall, bahkan makan di restoran kesukaan saya--sendirian.

Aneh? Autis? Tau deh.

Jujur saja, suami saya juga lebih happy kalau diberikan waktu untuk sendiri, melakukan apa yang dia suka : kutak-kutik komputer, nonton film atau sekedar baca buku. Bukan berarti dia tidak cinta saya. Bukan berarti apa-apa.

Nah, saya memang pecinta kebebasan. Terserah orang menilai. Pada akhirnya kita memang tidak bisa jadi orang lain. Sebaiknya, orang lain juga tidak harus memahami kita. Cuma saja, yang penting, jangan sampai mengganggu orang lain, atau mengganggu hak pribadi saya. Hehe.

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .