My Photo
Powered by Friendster Blogs

May 07, 2008

Hidup dengan orang lain berart lebih baik...

1. Menelan ludah dan menarik nafas saat ingin menyalak atau menerkam

2. Mendengarkan dan berfikir keras untuk mengolah kata, sebelum bicara

3. Memiliki barang yang disayangi dan mengizinkannya menjadi rusak karena dipakai, salah penggunaan, atau tak dirawat

4. Tak mendengarkan kata-kata yang tak berkenan dan membuangnya jauh dari ingatan

5. Memberi bukan untuk dapat menerima yang diharapkan dikemudian hari

6. Menjelaskan, bukan membela diri

7. Berkata "mungkin anda benar", saat menerima kritik

8. Berlatih teknik pernapasan yang mumpuni (hehe)

                            

March 09, 2008

Life is ...

Baru lepas menyepi sehari-semalam, saya baru sadar bahwa saya membutuhkan banyak keheningan. Lebih banyak lagi dibanding biasanya.

Akhir-akhir ini saya membatasi diri berkomentar negatif, dan akhirnya berujung belagak tak peduli. Tapi ternyata suara-suara penuh kemarahan masih ada di kepala saya. Malah lebih keras dari suara teriakan penuh kemarahan saya yang ingin saya keluarkan.

Apakah saya menjadi orang bijak karena tidak mau berbicara atau menanggapi?

Saya terlanjur berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengeluarkan monster dari diri saya. Belajar meringankan beban emosi yang sering saya panggul siang-malam. Gampang? Haha. Sama halnya dengan mengangkat satu kaki sambil berusaha jalan. TIDAK SEIMBANG JUGA. (now that I am shouting)

Manusia sabar yang saya kenal pun bisa jutek, judes dan tak perduli demi mencegah dirinya meledakkan kemarahan.

Manusia lain yang lebih dekat dengan sang pencipta pun ternyata masih punya agenda pribadi dan kecenderungan bias. Plus memaksakan kehendak dengan tedeng aling-aling apapunlah.

Manusia yang menyatakan diri untuk memberikan cintanya sepanjang hidupnya seringnya berperan sebagai manusia biasa, bukan super hero. Butuh perhatian, penegasan akan penerimaan, materi. PHEW.

Lah saya? Dewa bukan, malaikat pun bukan. Mau aksi-aksian melebihi jagoan? Mana bisaaa........

Seringnya saya jadi tergugat.Tak jarang dianggap ekstrim. Ah, masih mending dianggap orang lah, daripada dianggap tidak ada.

February 26, 2008

I shall blame it on the star

It turned out to be a wrong Tuesday. There was no special sign of bad luck , not even on the calendar.  Things in the office went well, but by 4 o clock when everybody seemed to rush home I didn't feel like going home.

Home. Wish I could feel home lately. Just funny sensation of having to take care of the building because it's not ours. Obliged to wear smiling face for the sake of mantaining relationship which does not seem to go anywhere. I have stronger urge everyday to explode. Will I be able to explode and yet spark the sky like the fireworks?The heat and bang worth its beauty.

A friend says I have to be gentle to myself, let the little girl inside of me articulate her inner voice. I  have to take her hands and follow her dreams.

Another friend says I have to ask for what I want in my prayers. Ask. But I don't dare to ask for more. The last thing I asked for something I thought worth fighting for, I hurt many people and left scars for years.

Should I shoot another star?

October 22, 2007

in the 5th year

we went through those hurdles 

convinced the unbelievers

fought what we were ourselves unsure of

yes, the children we are raising

take so much courage, energy and resources

without your warmth and values I could never do

in my impatience, intolerance, anger and pain

keep me going, help me grow, 

show me the things I have looked over

not because the ring that I have been wearing,

nor the vow that we have taken in the serene of the ceremony

but the prudence we have acquired during the test of time

Happy 5th anniversary, my dear.

September 05, 2007

Jadi Batu

Kalau lagi jengkel, memang rasanya agak lega kalau bisa ngomel. Apalagi kalo bisa ngomelin orang yang tepat.

Tapi akhir-akhir ini ternyata tenaga saya untuk ngomel lagi low battery banget. Tau kenapa.

Kejadian pertama, ngadepin nyokap yang usianya 2 kali lipat usia saya tapi ternyata emotional intelligence nya ternyata saingan sama anak saya yang usianya 4 tahun dan masih rawan tantrum. Saya tidak bisa ngomel walau diteror ditelepon jam 01.30 dini hari , diultimatum nyokap mau tinggal di wisma jompo saja karena saya absen menjenguknya belakangan ini (sementara kedua abang saya yang absen menjenguk memberi jawaban: kan gue dah transfer duit ke nyokap, ngapain lagi gue dateng? --mau nimpuk gak tuh?). Belum lagi mendengarkan keluhan beliau tentang para kakak ipar saya, welehh..salah-salah ngomong saya seperti kakak tirinya Cinderella.Mendingan diem seribu bahasa.

Nah. Kalau di kantor bete, daripada ngomel2... mending jadi batu. Dan saat orang tanya kenapa urusan A gak kelar-kelar, sambil ngeloyor bisa berseloroh "The system fails, I don't".

Kalau di keadaan lain, yang idealnya ada pembicaraan harmonis, tapi siapa yang mau disalahkan kalau saya pilih jadi batu setelah pertengkaran hebat gara-gara masalah yang menurut saya sepele. Saya tidak bisa berpura-pura manis, karena hari masih pegel (gak ada tukang pijet hati sih). Tidak bisa nyolot,karena tidak mau berniat bermusuhan. Itu saja. Tapi saya pilih jadi batu.

Katanya lebih mudah jadi malaikat, karena hanya  bertugas beribadah dan memuji kebesaran Tuhan. Tapi tokh saya tidak bisa memohon dirubah menjadi malaikat. Saya juga tidak bisa pura-pura jadi malaikat. Maafkan kebatuan kepala dan hati saya.

July 23, 2007

Mendengarkan suara hati

Suatu hari Minggu, saya makan siang dengan seorang kawan lama karena kami sama-sama baru ultah dan rasanya sudah lebih dari 3 tahun tidak bertemu muka. We used to be close. QUite close. Saya sendiri lupa kenapa hubungan pertemanan kami sempat merenggang. Entah kesibukan, entah pernah jengkel, sampai kami sudah lupa.

Status kami berbeda. Saya, ibu beranak 3. Dia, jomblo tapi punya TTM dengan seorang bule. LDR pula. NSR.

Di satu sisi, dia mengagumi kenekatan saya. Haha. ANdai dia tahu, bahwa saya sendiri suka takut dengan kenekatan saya.

Di lain sisi, saya mengagumi keagungan budinya, penurut dengan ortu, dan memilih jalan karir yang lebih menantang.

Ternyata saat kita bertemu dan berkaca tentang persoalan hidup masing-masing, benar-benar jadi moment yang membukakan mata. Saya benar-benar tersentuh.

Memang saya tidak buka semua perkara pribadi. Tapi beberapa kali saya tertegun dengan ucapan-ucapan kawan saya itu. Terutama dengan hal-hal yang selama ini tidak menjadi bahan pertimbangan saya. Bagaimanapun, ada hal yang terlupa.

Kemana perginya suara hati? Kenapa telinga saya jadi pekak oleh suara-suara di luar? Kenapa saya juga jadi sibuk berteriak-teriak sampai saya sendiri sudah tidak tahu apa lagi yang saya teriakan. Mungkin saya sendiri juga jadi tuli karena teriakan sendiri.

I should have been aware that people mean well. Should have never questioned them. Could have considered other things but my own stuff.

Apa sih juga salahnya tak cepat bereaksi, beraksi, apalagi berkomentar. Terlalu cepat mengambil kesimpulan, juga menyesatkan. Mending kalau tersesat sendirian, nah kalau bikin orang lain tersesat? Apa bukan saya juga yang malah gak bener?

Arrghhh.... coba ah. Walau gigi masih gemeretuk geram, tangan siap-siap mencengkeram kerah orang, saya mau coba menajamkan pendengaran. Siapa tahu hati saya bisa kompromi.

July 17, 2007

Lesson from the beach

Saya ternyata mendapat pelajaran baru saat saya sendirian di tepi pantai. Saat itu dini hari, tak ada matahari. Karena gerhana bulan, langit pun tidak ada cahaya.

Saya berlari kencang dan berteriak sepuasnya.  Pada saat saya mengawali lari dan berteriak itu, rasanya dada ini lega. Seolah semuanya bisa tertumpahkan.  Tapi kemudian nafas saya tersengal dan kepayahan. Baru saya sadar, sebenarnya kalau saya lari dengan santai dan mengatur nafas, jarak tempuh pasti lebih jauh.

Memang mudah melakukan sesuatu, saat kita merasa punya kekuatan. Ngotot. Tantangannya adalah pada saat kita mampu dan bisa, sempatkah kita berpikir ;perlukah saya melakukan hal ini?

Ibaratnya wong namanya orang lagi happy, wajar dong ketawa-ketiwi. Bisa ketawa, ya ketawa kencang-kencang. Kalau perlu sampai terkencing-kencing. Tapi perlukah tertawa sampai begitu?

Pada saat kita berkuasa, merasa mampu, di atas angin, dan bisa mengendalikan orang, mudah sekali melakukan apa yang kita mau. Cuma satu hal, perlukah sampai mencundangi orang, membuat orang yang tak berdaya merasa semakin tak berdaya? Mampukah kita menghormati hak si tak berdaya? Punyakah kita ketulusan untuk memberikan kesempatan untuk orang lain : paling tidak untuk mengambil kendali akan hidupnya sendiri? Mengangkat harkat dan martabat orang lain tidak selalu melalui cara memberi. Setiap orang punya pride untuk berusaha dengan upayanya, bukan dengan belas kasihan.

Sebaliknya, pada saat kita tidak berdaya, tak bisa apa-apa, bukan berarti mutlak harus sedih dan putus asa. Kita bisa terus menerus sedih dan berkeluh kesah, tapi perlukah mengumbar kesedihan dan ketidakberdayaan? Jangan-jangan kita cuma mendramatisir situasi. Jangan-jangan keadaan tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Siapa tahu kalau kita berusaha lebih keras, pasrah kemudiannya, hasilnya akan lebih baik.

Seperti saat saya kepayahan sesudah berlari kencang sambil berteriak pagi itu, apakah saya semaput kehabisan oksigen? Memang rasanya sulit untuk bernafas, tapi kalau saya atur nafas dengan tenang...tokh tidak sesulit itu. Pun, jika butuh waktu untuk mengatur nafas, saya tidak akan megap-megap dan menggelepar.

Tidak ada yang absolut di dunia ini. Sometimes we win and lose at the same time. Many times life comes in two kinds of packages: sorrow and happiness. Disappointment and hopes.

July 07, untuk teman baik saya yang tengah bimbang.

July 06, 2007

Kebersamaan

Saya tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya dengan jarak usia yang terpaut jauh dengan dua kakak laki-laki saya. sedangkan mereka terpaut usia 11 bulan, sehingga punya punya lebih banyak kesamaan satu sama lain.

Dari kecil saya mendapatkan lebih banyak privacy dari teman-teman sebaya. Bayangkan, dapat kamar sendiri karena gak mungkin tidur bareng kakak-kakak berlain jenis. Punya koleksi mainan sendiri, menyimpan barang-barang kesukaan di tempat tersendiri.

Berbeda halnya dengan orang terdekat saya, suami, yang dilahirkan kembar. Bayangkan, kembarannya lain jenis. Mungkin ada beberapa hal yang sedari kecil disamakan : baju, mainan, atau perlakuan. Mungkin seringnya banyak hal lebih senang dilakukan  bersama-sama. Berawal dari kebersamaan, tapi bisa juga menjurus ke persaingan.

Hal yang menyenangkan yang saya temui dari suami adalah dia tidak keberatan ikut terlibat dengan kesibukan dan kepusingan saya. He's just simply ready to be with me. Dari urusan kantor; masa-masa saya merintis pelatihan debat untuk siswa sementara atasan saya perdulipun tidak, sampai urusan anak--memandikan, membersihkan pampers, bahkan memeras ASI. Saya acungkan dua jempol karena suami saya rela menjaga anak-anak dan mengurus rumah (catat: tanpa pembantu) sementara saya datang ke pertemuan perhimpunan guru-guru.

Kaitan dengan sang saudara kembar juga tak kalah seru. Dulu itu masa pacaran, kita sering jalan bareng-- saya, suami saya--yang indulunya pacar saya, kembarannya dan pacarnya. Makan bareng, nonton bareng. Tapi nikah, gak bareng-bareng. Hamil anak pertama, ternyata bareng. Jadi, hamil bareng, melahirkan hampir berdekatan. Membesarkan anak bareng (karena tinggal di rumah yang sama), walau dengan value yang berbeda.

Lama-lama, saya merasa butuh lebih banyak ruang gerak. Saya butuh bernafas. Bukan karena saya tidak mau bersama-sama. Sederhana saja, saya butuh privacy.

Sedangkan secinta-cintanya saya dengan anak-anak, saya perlu waktu untuk duduk di depan komputer tanpa mereka, memasak tanpa rewelan atau tangisan mereka. Sering juga saya perlu jalan-jalan sendiri, entah ke toko buku atau ke mall, bahkan makan di restoran kesukaan saya--sendirian.

Aneh? Autis? Tau deh.

Jujur saja, suami saya juga lebih happy kalau diberikan waktu untuk sendiri, melakukan apa yang dia suka : kutak-kutik komputer, nonton film atau sekedar baca buku. Bukan berarti dia tidak cinta saya. Bukan berarti apa-apa.

Nah, saya memang pecinta kebebasan. Terserah orang menilai. Pada akhirnya kita memang tidak bisa jadi orang lain. Sebaiknya, orang lain juga tidak harus memahami kita. Cuma saja, yang penting, jangan sampai mengganggu orang lain, atau mengganggu hak pribadi saya. Hehe.

May 20, 2007

Mencintaimu: dulu dan sekarang

Mencintaimu dulu adalah menulis lembaran surat penuh rindu, menanti deringan telepon jarak-jauh di tengah malam demi murahnya biaya LDR (Long Distant Relationship), berpayah pergi ke Warnet yang pengap sepulang mengajar.

Mencintaimu kemudian adalah menggengam jemarimu dengan erat seraya berbagi pandang berlama-lama, berpelukan dalam sedih dan bingung antara memilih bersama atau berpisah karena pengelompokan keyakinan.

Mencintaimu selanjutnya adalah berjalan bersisian, tertawa bersama, saling mengerutkan kening dalam argumentasi, beku dalam kemarahan dan kekecewaan, namun kembali berdekapan erat dalam hati yang penuh damai dan kesepahaman.

Mencintaimu kini adalah menerima ciuman pipi penuh sayang, senyum yang menyejukkan sampai ke jiwa, sikap sebagai panutan, ucapan yang meredam kegelisahan.

Mencintaimu ternyata membukakan mataku bahwa selama ini aku tidak dibiarkan merasa sendirian...

May 02, 2007

Mid-life crisis

I thought I would never have to enter a mid-life crisis. I mean, not me--the bonehead and heart-made-of-stone.

Life has been difficult. I have been struggling for relationship, job, faith, happineses, friendship even for my own peace. You just name it. I have been misjudged, misintrepreted, maltreated, underestimated, accused of doing things don't even cross my mind.

Somehow, whenever I look back, I have always been blessed for God gives me a very meaningful life where I learn about trust, patience, pain-endurance, sacrifice, companionship. The last is about silence and truth.

In the end, it does not really matter anymore what I want. It is just no longer about me or mine that used to be very important and I would fight for.

God seems to listen to me in His own way. After all, I was put into existence for a certain mission, eventhough it has never been clear to me what it really is.

In my journey, I have been arranged to meet special people to accomplish my mission. I have to grow stronger and braver. I will have to try harder before I really surrender. Tears may flow and form a river, but sorrow does not represent the lesson learnt.